BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Welcome to my incredible dream's journal!!!!!

Halo para visitor blogku!!!!
maaf ya kalo isinya rada geje, coz campur2!!!!
so, langsung aja deh,
Enjoy!!!

Minggu, 28 Februari 2010

Teori Noetic



Noetic!! Tahukah kalian bahwa pikiran manusia mempunyai gravitasi? Ya! Itulah hal yang kubaca dari bukunya Dan Brown yang baru-baru keluar berjudul "The Lost Symbol" !! *Keren abis dah tu buku!!*

Dari hasil search ku di Mbah google, dan nyasar sampe ke Nenek Wikipedia, Noetic itu :

"adalah cabang dari metafisika filsafat studi yang bersangkutan dengan pikiran dan intuisi, Dan hubungannya dengan intelek ilahi. Di antara tujuan utamanya adalah untuk mempelajari efek persepsi, keyakinan, dan niat yang berkaitan dengan kesadaran manusia.

Teori pusat sekitar noetics gagasan bahwa pikiran manusia mampu mempengaruhi atau bahkan melakukan pekerjaan ke dunia fisik. Disarankan bahwa pikiran dan roh tidak sebenarnya khayalan, tetapi berdasarkan Bose atau foton."


Weleh,, terlalu banyak kalau mau di copy paste ke blog. Apa lagi belum menTraslate ke Indonesia. Maklum, Teori ini baru-baru aja keluar. jadi masih dalam bahasa inggris. tepatnya teori ini belum terkenal!!

Sip dah!!

Arti Hidup




Kali ini, saya ingin sedikit berbagi tentang perasaan saya beberapa waktu ini. Yaah, maklum, saya orangnya gak suka curhat, jadi ya curhat di blog saja.

Mmm, apakah ada yang bisa menjelaskan kepada saya, APA ARTI HIDUP ? Maaf, bukan berarti saya ingin mati, namun saya merasa, belakangan ini, hidup saya benar-benar membosankan.

Hidup saya stagnan, bagaikan mati suri. Hati saya serasa mati. Saya bosan dengan segala kebusukan dunia saat ini. Saya merasa, seluruh dunia telah berubah menjadi onggokan sampah. Hanya beberapa emas yang terdapat di dalamnya. Dan ironisnya, sampah-sampah itu menguasai dunia ini, berusaha melenyapkan emas-emas berharga yang juga menjadi alasan saya untuk tetap bertahan hidup di dunia seperti ini. Saya merasa menjadi boneka sampah-sampah itu (meski saya belum menjadi emas).

Saya benar-benar menjadi orang lain. Meski saya tertawa-tawa, menangis, marah, dan segala hal yang dilakukan orang normal, itu semua hanyalah fana. Semua hanyalah kedok, kedok agar mereka, para sampah, tidak menginjak-injak eksistensi saya di dunia yang bejat ini.

Saya benar-benar merasa diperbudak oleh lingkungan saya. Ingin rasanya membekap mulut busuk mereka, yang mengocehkan omongan sampah tiada henti. Saya ingin melenyapkan mereka semua yang mengendalikan saya. Lenyap selenyap-lenyapnya. Tanpa sisa.

Saya ingin mengubah, mengubah semuanya. Meski saya hanyalah seorang pelajar SMP yang belum mengerti apa-apa, namun saya juga memiliki mimpi, mimpi untuk mengubah segalanya menjadi lebih baik.

Jika bisa, Saya akan berlari, berlari sekencang-kencangnya, untuk menjauhi mereka semua. Mungkin juga,dengan berlari, ikatan ini akan lepas, dan saya memliki kembali kuasa penuh akan diri saya.

Saya akan menangis, menangis sekeras-kerasnya. Menangis sampai air mata ini mengering. Berharap dengan keringnya air mata ini, dapat membuat saya bebas, bebas menjadi diri saya sendiri.

Saya akan berteriak. Berteriak sampai saya tak mampu berbicara lagi.
Berharap bisu ini, dapat membantu saya melepaskan diri dari segala beban, ikatan, dan tekanan dari mereka.

Mungkin apa yang saya lakukan di atas hanyalah tindakan seorang pengecut, yang bahkan tak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Tapi, saya sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Saya hanya ingin mereka semua tahu, betapa lelahnya saya menjadi boneka mereka.

Ingin rasanya saya mencengkram bahu anda, menggoncangnya, dan berteriak, dengarkah anda? saya ada. saya masih ada. rasakan keberadaan saya. Saya ingin memulai awal yang baru. Menikmati hidup saya. Menjadi diri saya sendiri. Sekarang juga. . Tanpa perlu mati

Tolong, biarkanlah saya menjadi diri saya sendiri. Saya sudah bosan dengan segala topeng yang saya pakai untuk menjadi boneka anda. Saya ingin lepas dari segalanya. Saya ingin menata kembali hidup saya dari awal. Kembali ke start. Dengan saya sebagai tuannya.

Jumat, 26 Februari 2010

Dipatahkannya teori "Global Warming" dengan "Global Dimming"


Fenomena penyusutan radiasi sinar matahari, atau lebih dikenal dengan sebut Global Dimming, telah menjadi perbincangan hangat kalangan ilmuwan dunia dewasa ini, akibat dampaknya yang sangat luas terhadap perubahan iklim global.

Teori yang berkembang menjelaskan sinar matahari dapat membawa jelaga partikel (dalam bentuk aerosol dan sejenisnya) kembali ke angkasa. Polusi yang terjadi di atmosfer menyebabkan peningkatan proses kondensasi pada tetes air (droplet) di udara, menjadi awan tebal yang lebih gelap dan dapat menahan serta mengurangi intensitas transmisi sinar matahari (dimming)mencapai permukaan bumi.

Ratusan alat ukur radiometer yang dipasang di benua Antartika (kutub selatan) dan Artika (kutub utara) mencatat penurunan intensitas radiasi matahari yang diterima bumi sebesar 10% dari akhir tahun 1950 sampai dengan awal 1990, atau sekitar 2 – 3% untuk setiap dekade. Bahkan untuk beberapa wilayah Asia, Amerika Serikat dan Eropa, dimana industri berkembang sangat pesat, terjadi penurunan dalam jumlah yang lebih besar, seperti halnya Hongkong: 37%. (The New York Time, 13 Mei, 2004).

Fenomena ini telah menjadi perhatian publik dunia, meskipun pada awalnya tidak ada peneliti yang percaya akan hal tersebut, ketika pertama kali dilaporkan Atsumu Ohmura dari Institut Teknologi Federal Swiss pada tahun 1985 (Science: 15 November 2002, 298, 1410-1411; The Guardian, 18 Desember 2003).

Berbeda dengan isu pemanasan global (global warming) yang telah diketahui penyebabnya, yaitu meningkatnya kandungan karbon dioksida (CO2) di atmosfer sebagai akibat tingginya konsumsi bahan bakar minyak, batubara dan gas alam lainnya yang menahan radiasi matahari dan menyebabkan pemanasan temperatur bumi, maka fenomena global dimming masih dalam tahap awal studi dan belum banyak dipahami para ahli.


Hasil penelitian melihat pengaruh awan terhadap keseimbangan neraca energi global menunjukkan terjadi peningkatan albedo (perbedaan radiasi matahari yang dipantulkan dan yang diterima bumi) dari 15% menjadi 30%. Kuantitas yang sama dengan energi hilang sebesar 50 W/m2. Awan mengurangi emisi sinar infra merah sebesar 30 W/m2, sehingga pengaruh awan dalam sistem neraca keseimbangan global telah menyebabkan kehilangan energi sebesar 20 W/m2. Bandingkan kuantitas tersebut dengan pengaruh efek rumah kaca (green house effect) yang memicu pemanasan global sebesar 4 W/m2, meskipun diberikan penambahan kandungan CO2 di atmosfer dua kali lebih besar dari kondisi saat ini (Intergovernmental Panel on Climate Change, 2001).

Tidak mengherankan apabila fenomena ini telah menarik perhatian peneliti seluruh dunia, mengingat dampaknya yang sangat luas pada perubahan iklim, daur hidrologi dan bidang pertanian.

Global Dimming di Wilayah Indonesia

Untuk melihat fenomena global dimming di wilayah Indonesia, penulis mengamati perubahan fluk rata-rata radiasi sinar matahari selama tahun 1979 sampai dengan 1993 (14 tahun) dari sensor satelit NOAA. Analisis perubahan penyusutan radiasi sinar matahari dilakukan secara kuantitatif dengan membandingkan perubahan fluk rata-rata radiasi sinar matahari selama kurun waktu 14 tahun tersebut.

Peningkatan konsentrasi global dimming di wilayah Indonesia akan membuat langit Indonesia diliputi gelap sepanjang hari pada abad mendatang dan anamoli cuaca lokal yang semakin tidak menentu. Tidak heran apabila ada hujan es di Jakarta pada beberapa waktu yang lalu. Satu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.