BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Welcome to my incredible dream's journal!!!!!

Halo para visitor blogku!!!!
maaf ya kalo isinya rada geje, coz campur2!!!!
so, langsung aja deh,
Enjoy!!!
Tampilkan postingan dengan label IPTEK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPTEK. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2010

Teori Noetic



Noetic!! Tahukah kalian bahwa pikiran manusia mempunyai gravitasi? Ya! Itulah hal yang kubaca dari bukunya Dan Brown yang baru-baru keluar berjudul "The Lost Symbol" !! *Keren abis dah tu buku!!*

Dari hasil search ku di Mbah google, dan nyasar sampe ke Nenek Wikipedia, Noetic itu :

"adalah cabang dari metafisika filsafat studi yang bersangkutan dengan pikiran dan intuisi, Dan hubungannya dengan intelek ilahi. Di antara tujuan utamanya adalah untuk mempelajari efek persepsi, keyakinan, dan niat yang berkaitan dengan kesadaran manusia.

Teori pusat sekitar noetics gagasan bahwa pikiran manusia mampu mempengaruhi atau bahkan melakukan pekerjaan ke dunia fisik. Disarankan bahwa pikiran dan roh tidak sebenarnya khayalan, tetapi berdasarkan Bose atau foton."


Weleh,, terlalu banyak kalau mau di copy paste ke blog. Apa lagi belum menTraslate ke Indonesia. Maklum, Teori ini baru-baru aja keluar. jadi masih dalam bahasa inggris. tepatnya teori ini belum terkenal!!

Sip dah!!

Jumat, 26 Februari 2010

Dipatahkannya teori "Global Warming" dengan "Global Dimming"


Fenomena penyusutan radiasi sinar matahari, atau lebih dikenal dengan sebut Global Dimming, telah menjadi perbincangan hangat kalangan ilmuwan dunia dewasa ini, akibat dampaknya yang sangat luas terhadap perubahan iklim global.

Teori yang berkembang menjelaskan sinar matahari dapat membawa jelaga partikel (dalam bentuk aerosol dan sejenisnya) kembali ke angkasa. Polusi yang terjadi di atmosfer menyebabkan peningkatan proses kondensasi pada tetes air (droplet) di udara, menjadi awan tebal yang lebih gelap dan dapat menahan serta mengurangi intensitas transmisi sinar matahari (dimming)mencapai permukaan bumi.

Ratusan alat ukur radiometer yang dipasang di benua Antartika (kutub selatan) dan Artika (kutub utara) mencatat penurunan intensitas radiasi matahari yang diterima bumi sebesar 10% dari akhir tahun 1950 sampai dengan awal 1990, atau sekitar 2 – 3% untuk setiap dekade. Bahkan untuk beberapa wilayah Asia, Amerika Serikat dan Eropa, dimana industri berkembang sangat pesat, terjadi penurunan dalam jumlah yang lebih besar, seperti halnya Hongkong: 37%. (The New York Time, 13 Mei, 2004).

Fenomena ini telah menjadi perhatian publik dunia, meskipun pada awalnya tidak ada peneliti yang percaya akan hal tersebut, ketika pertama kali dilaporkan Atsumu Ohmura dari Institut Teknologi Federal Swiss pada tahun 1985 (Science: 15 November 2002, 298, 1410-1411; The Guardian, 18 Desember 2003).

Berbeda dengan isu pemanasan global (global warming) yang telah diketahui penyebabnya, yaitu meningkatnya kandungan karbon dioksida (CO2) di atmosfer sebagai akibat tingginya konsumsi bahan bakar minyak, batubara dan gas alam lainnya yang menahan radiasi matahari dan menyebabkan pemanasan temperatur bumi, maka fenomena global dimming masih dalam tahap awal studi dan belum banyak dipahami para ahli.


Hasil penelitian melihat pengaruh awan terhadap keseimbangan neraca energi global menunjukkan terjadi peningkatan albedo (perbedaan radiasi matahari yang dipantulkan dan yang diterima bumi) dari 15% menjadi 30%. Kuantitas yang sama dengan energi hilang sebesar 50 W/m2. Awan mengurangi emisi sinar infra merah sebesar 30 W/m2, sehingga pengaruh awan dalam sistem neraca keseimbangan global telah menyebabkan kehilangan energi sebesar 20 W/m2. Bandingkan kuantitas tersebut dengan pengaruh efek rumah kaca (green house effect) yang memicu pemanasan global sebesar 4 W/m2, meskipun diberikan penambahan kandungan CO2 di atmosfer dua kali lebih besar dari kondisi saat ini (Intergovernmental Panel on Climate Change, 2001).

Tidak mengherankan apabila fenomena ini telah menarik perhatian peneliti seluruh dunia, mengingat dampaknya yang sangat luas pada perubahan iklim, daur hidrologi dan bidang pertanian.

Global Dimming di Wilayah Indonesia

Untuk melihat fenomena global dimming di wilayah Indonesia, penulis mengamati perubahan fluk rata-rata radiasi sinar matahari selama tahun 1979 sampai dengan 1993 (14 tahun) dari sensor satelit NOAA. Analisis perubahan penyusutan radiasi sinar matahari dilakukan secara kuantitatif dengan membandingkan perubahan fluk rata-rata radiasi sinar matahari selama kurun waktu 14 tahun tersebut.

Peningkatan konsentrasi global dimming di wilayah Indonesia akan membuat langit Indonesia diliputi gelap sepanjang hari pada abad mendatang dan anamoli cuaca lokal yang semakin tidak menentu. Tidak heran apabila ada hujan es di Jakarta pada beberapa waktu yang lalu. Satu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.